Ruang kamarku selalu ramai. Ramai oleh boneka-boneka lucu, buku-buku sejak aku masih sekolah SD hingga kuliah, novel-novel keren, surat-surat cinta zaman ABG, pernak-pernik, dan benda lainnya. Mereka yang membuat kamarku ramai, penuh sesak meski mereka tak pernah berisik dan membuat kegaduhan seperti keramaian yang terjadi di pasar.
Semut-semut lucu menjadi penghuni baru di kamarku. Mungkin hanya mereka yang bernyawa selain aku, meski suara mereka tak sampai membuat kegaduhan di kamarku. Tapi kehadiran mereka mengingatkan aku akan sesuatu.
Ketika hatiku sulit tertidur dari keterpurukan rasa, ketika pula pikiranku terjerembab dalam kepenatan, semut itulah yang mengajarkanku menepis segala lelah berkepanjangan.
Semut tidak pernah putus asa menghadapi rintangan. Seperti ketika jalan yang akan dilaluinya ditutup, semut tak berhenti atau mundur. Tetapi semut itu terus berjalan mencari rute lain dan kemudian melanjutkan perjalanannya. Lalu buat apa aku pantang menyerah? semut sekecil itupun tak pernah pantang menyerah. Semut pun kuat, mampu mengangkat beban yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Dan aku tak sepantasnya rapuh ketika diterpa berbagai masalah.
Sejenak aku tersenyum mengingat kau yang seperti semut. Yang tiba-tiba menghampiri gula bukan untuk memakannya, melainkan untuk menjaganya. Dan darimulah aku belajar ketegaran.
"Jika aku punya impian,
aku ingin menjadi air matamu. Biar aku lahir dari matamu kala kau menangis,
dan mati di tanganmu kala kau mengusap. Dan jika kau jadi air mataku, selamanya tak akan pernah aku menangis. Karena aku tak ingin kehilangan dirimu," begitu katamu.
Aku tak tau dimana keberadaanmu kini. Kehadiranmu selalu terwakilkan oleh semut yang selalu ada dimana saja :)
Aku tak tau dimana keberadaanmu kini. Kehadiranmu selalu terwakilkan oleh semut yang selalu ada dimana saja :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar