Jumat, 28 Februari 2014

Siluet Kata

1
Pria bijak menyapaku dalam sepi
Mengurai do’a dan secarik semangat
Menghidupkan malamku yang selalu hening
2
Pria bijak jangan biarkan perih mengiris-iris lagi
Biarlah semua bermuara di lautan duka
Menenggelamkan benci dan kecewamu atas masalalumu
3
Aku kagum akan perangaimu
Masalalu, entah apapun itu celotehmu
Menjadi renungan terdalam
Hidup bukan hanya sebatas akademik, dan hidupmu penting bagiku
4
Dan ketika malam menyergap merayap pada resah,
Kau membuat hatiku tersentak dengan rangkaian nasehatmu
Menderaikan airmata yang terbendung membasahi pipi
“Hidup itu sebenarnya memang benar pilihan, dan sangat ditentukan dengan pilihan”, bait kata terakhirmu malam itu
5
Seperti puisi yang membius relung hati
Kata2mu selalu saja menjadi penyegar dahaga jiwa
Tak ada do’a setulus hati yang kutemukan
Kecuali dari paras teduhmu
6
Zafran, begitulah aku memanggilmu
Bukan karna sekedar aku mengidolakan tokoh itu
Tapi karna berharganya kau bagiku
7
Aku berdiri di pintu pagar ruang hatimu
Menyuguhkan segenggam rasa yang aku tak tau apa namanya
Dan aku tak berharap kau mengizinkanku menerobos hatimu
8
Mataku basah saat kau bicara tentangnya
Detik itu hatiku mengabarkan kenyataan
Bahwa cintalah yang aku genggam untukmu
9
Kau tau, sejak pertama melihat matamu
Hatiku tergerak menelusuk tentangmu jauh lebih dalam
Mungkin sejak saat itu ada cinta untukmu
Hanya saja aku tak menyadarinya
10
Dan ketika aku memilih mencintaimu dalam diam,
Kaupun tau tentang cinta itu
“Jangan takut dengan cinta, takutlah bila kita tidak bisa merasakan cinta”, katamu menenangkanku
11
Aku hanya takut kau tak ingin dicintai
Takut kau tak nyaman dengan cinta ini
Dan seperti sediakala, kau membiusku dengan nasehat
Juga dengan untaian do’a penyejuk
Yang cukup menjatuhkan air dimataku
12
Aku dilema, sungguh dalam kebimbangan
Ingin menjauh
Tapi ingin pula selalu dekatmu
13
Bukan aku merasa tak nyaman dengan keadaan
Hanya hatiku yang semakin bergetar bila dekatmu
14
Aku memang selalu takut mencintai,
Apalagi bila cinta itu bertepuk sebelah tangan
Bukan aku berharap kaupun mencintaiku
Hanya tak ingin kau jengah dengan cintaku
15
Rindu selalu saja menyapaku
Cukup lama aku tak melihat senyum teduhmu
16
Saat aku berdo’a, “Tuhan, pertemukan aku dengannya satu detik saja”
Tuhan pun menjawab do’aku
Dan hatiku runtuh begitu hening melihatmu didepanku
Benar saja, hanya satu detik
Karna aku melangkah cepat menutup malu melihatmu
17
Ketika saat ini pun kau menjauh
Nyatanya hatiku masih saja bergetar karnamu
Dan mimpi tentangmu belum saja selesai
18
Aku memang bukan hanya mengagumimu layaknya penggemar terhadap idola
Tapi aku mencintaimu, lebih dari sekedar idola
19
Bersediakah kau mencintaiku? Aku rasa tidak
Kau tetap idola, yang tak mungkin mencintai penggemarnya
20
Benar kata sahabatmu,
Bagaimana mungkin aku mencintai seseorang sampai begini
21
Aku tak pernah tau apa alasannya
Karna akupun baru merasakan cinta sedalam ini
Cinta yang kata sahabatmu, “tak pernah diberi sesuatu yang spesial, tak pernah ada perlakuan lebih dari sang laki2, tapi tak pernah marah, dan itu impossible....”
22
Kekasih pertama bukan berarti cinta pertama
Dan aku baru merasakan cinta seperti ini
Mungkinkah kau cinta pertamaku? Entahlah
Hanya Tuhan yang tau
24
Aku tak pernah berharap apapun
Hanya bahagiamu yang selalu aku harap dalam setiap nafasku
25
Kenangan kita memang tak banyak
Tapi sedikit saja kau berceloteh
Telah tersimpan lama dalam memoriku
Entah sampai kapan
26
Entah dimana keberadaanmu kini
Yang aku tau, kau masih tetap dihatiku
Kau masih saja indah bersama kata-katamu yang menjadi siluet...

#Aku tak ingin dianggap spesial olehmu, yang aku tau...kau selalu spesial untukku zafran
Biarkan kata-katamu menari indah bersama sosokmu yang belum saja hilang dari benakku


Jemput Aku Bersama Janji Sucimu



           Awan nan putih berkejaran riang di birunya langit. Kicauan burung nan merdu seakan menambah keceriaan hari yang cerah. Hari itu, hari yang indah. Tak ada mendung, tak ada hujan setetes pun. Keadaan yang tak biasa dari hari sebelumnya. Mengingat bulan ini nyaris tak ada hari dengan iringan cuaca cerah. Keindahan hari yang tak terlukiskan itu mendukung suasana hati seorang gadis yang tak sempat terlukis oleh apapun. Ifa, seorang gadis berkerudung nan cantik itu kerap meraih kebahagiaan yang belum pernah ia duga sebelumnya. Betapa tidak, setiap insan mengharapkan pernikahan yang sakral. Yang hanya terjadi satu kali seumur hidup. Dan itulah yang kini dirasakan Fairuz Alifah yang akrab disapa ifa.
“Alhamdulilllah....!,” riuh suara hadirin saat mempelai pria mengucapkan ijab kabul.
            Terlihat rona bahagia pada sorot mata Ifa. Airmata jernihnya tak dapat lagi ia bendung. Seluruh hadirin yang menyaksikan detik-detik sakral itu ikut tenggelam dalam kebahagiaan. Ifa bahkan tak sanggup menatap ikhwan di hadapannya yang kini resmi menjadi suaminya. Seorang pria sholeh dan tampan yang akan mendampinginya mengarungi bahtera hidup. Airmata masih mengalir di pipi merah Ifa. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Masa lalu, masa yang membuatnya tersentak saat hari bahagia ini tiba.
* * *
            Ifa, dara manis berkerudung itu semakin tak mengerti dengan perasaannya. Ia terpenjara dalam bayang-bayang seseorang. Reihan Azka, kakak tingkatnya yang kini menjabat sebagai Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa telah membuat waktunya tersita. Pikirannya diselimuti angan tentang pria itu. Belum lama ia mengenalnya. Mungkin selama 2 semester ini, ia baru melihat Reihan. Saat itu Reihan berada diantara kandidat Ketua HIMA (Himpunan Mahasiswa) dalam pemilihan Ketua HIMA periode 2010-2011. Reihan termasuk salah satu kandidat yang lulus seleksi dari sepuluh mahasiswa yang mencalonkan diri sebagai Ketua HIMA. Dan yang lulus seleksi ini terdiri dari empat orang. Hasil pemilihan Ketua tersebut adalah, Iman Nugraha sebagai Ketua Umum, Reihan Sekretaris Umum, dan Dewiana sebagai Bendahara Umum.
            Periode baru HIMA memerlukan kepengurusan yang baru pula. Karena itulah, diadakan seleksi pengurus HIMA periode 2010-2011. Fairuz Alifah, dkk tak mau ketinggalan mengikuti seleksi ini. Saat itu, seleksi terdiri dari test tulis dan interview. Ifa yang semangat mengikuti seleksi, sebenarnya tak begitu berharap bahwa ia akan lulus seleksi ini. Hanya mencari pengalaman. Terlebih lagi, ada seseorang yang menarik perhatiannya sejak pemilihan Ketua HIMA. Yah itung-itung melihat sang idola.
            Tiba saatnya Ifa test interview. Sebelumnya, setiap peserta seleksi harus mengambil kertas yang digulung dan berisi nama penguji. Dengan hati gemetar, Ifa mengambil salah satu kertas tersebut. Perlahan ia membuka gulungan kertas itu, hingga terbaca nama salah satu penguji. Dua puluh menit berlalu. Ifa masih gemetar saat ia harus memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat 5 orang penguji dan peserta seleksi yang juga mendapat giliran interview. Ia melangkah pelan, melempar pandangan pada sudut ruangan. Ia melihat sesosok laki-laki berparas teduh, bersih, dan tampan. Laki-laki itu adalah Reihan, Sekretaris Umum HIMA yang menjadi pengujinya. Ifa menghampiri Reihan dan duduk berhadapan dengan Reihan layaknya seseorang yang diwawancara. Dengan lugas Reihan melontarkan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh Ifa. Sesekali Reihan menundukkan kepala, melihat-lihat kertas yang bertuliskan penilaian hasil wawancara. Ifa hanya tertegun melihat idolanya, mencuri pandang sekenanya. Terlihat desiran gugup pada rona wajah Ifa. Beruntunglah interview itu segera berakhir. Karena jika terlalu  lama, khawatir degup jantungnya terdengar merdu oleh Reihan.
* * *
            Tiba saatnya pengumuman peserta seleksi pengurus HIMA. Dengan diselimuti penasaran tinggi, Ifa memberanikan diri menanyakan hasil seleksi dengan mengirim sms Sekretaris Umum yang bernama Reihan.
“Wa alaikumussalam. Iya, Fairuz. Pengumumannya baru akan saya publikasikan di FB besok pagi.”
Ifa sedikit kaget, kenapa Reihan bisa tahu kalau ia yang mengirim sms. Dan baru Ifa sadari, Reihan adalah Sekretaris Umum. Tentu Reihan menyimpan data peserta seleksi. Seusai dari pertanyaan hasil seleksi itu, obrolan mereka berlanjut meski tak smsan selama berjam-jam. Terlepas dari urusan HIMA, mereka semakin sering berkomunikasi. Mulai dari sms-an, hingga telponan hanya untuk penghilang jenuh.
Hari itu tepatnya 27 Agustus 2010, diadakan acara bedah buku di salah satu kampus ternama di Bandung. Ifa begitu antusias menghadiri acara tersebut. Karena ia memang senang dengan dunia kepenulisan. Tapi, sifat manjanya yang selalu ingin ditemani membuat ia tergerak mengajak teman lainnya. Alhasil, tak ada satupun yang berminat selain Reihan. Saat itulah hari pertama mereka pergi berdua. Sikap Reihan yang dingin sebeku es, hari itu terasa hangat. Tak ada lagi kata yang pantas menggambarkan suasana hati Ifa saat itu selain grogi tingkat tinggi, juga nyaman berada dekat Reihan.
* * *
Tak dapat dipungkiri, semakin hari perasaan Ifa semakin tak menentu. Ia cenderung terlihat lebih enerjik dari biasanya, selalu tampak bahagia dalam setiap kesempatan, dan semangatnya membara ketika bayangan Reihan melintas di pikirannya. Inikah yang dinamakan cinta?. Ya, rasa itu. Bukan lagi sekedar rasa kagum. Melainkan tumbuh dengan indahnya menjadi butir-butir cinta. Ifa bimbang. Tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ini bukan pertama kalinya ia dekat dengan sebuah rasa yang disebut cinta. Tapi, inilah pertama kalinya ia merasakan cinta yang tulus dan amat mendalam serta membuatnya tersiksa dengan perasaan itu.
Ifa perlu seseorang yang memberikan seuntai nasihat yang mungkin bisa membuatnya sedikit terlepas dari kebimbangan. Saat itu, tepat tanggal 5 September 2010 pukul 11.34 WIB terpapar moment yang tak kan pernah Ifa lupakan.
“Salahkah bila wanita menyatakan cintanya terlebih dulu?,” bunyi sms Ifa pada seseorang.
“Ngga salah, Fa. Salahkah Khadijah menyatakan cintanya pada Rasulullah?.”
Berulang kali Ifa menanyakan perkara itu, dan berulang kali pula orang tersebut menjawab dengan jawaban yang sama. Pada intinya, ia menyemangati Ifa agar berani mengatakan cinta pada seseorang yang Ifa cintai. Ifa pun ragu. Bagaimana mungkin seorang Ifa yang acapkali acuh dengan cinta, kini merasa tersiksa karena telah memendam cinta.
“Emangnya Ifa lagi cinta sama siapa? Sini biar kaka yang ngomong sama dia kalau Ifa gak berani,” tanya Reihan yang saat itu menjadi tempat nasihat terbaik bagi Ifa.
“Kalau sama kaka, gimana? Hehe....,” jujur Ifa. Reihan bertanya tentang keseriusan ucapan Ifa. Setengah ragu, Ifa pun akhirnya menyatakan keseriusan perasaanya, meski sebelumnya ia berulang kali mengatakan kalau itu hanya gurauan. Dua jam kemudian Reihan melontarkan jawaban yang menggetarkan jiwa Ifa.
“Maaf ya Fa, lama. Ka salut sama Ifa. Ifa hebat banget, udah berani jujur. Hmm..setelah kaka konsultasi pada salah satu sahabat kaka, dia bilang: ‘Jangan, mungkin itu adalah godaan buat kamu’. Begitu Fa, katanya. Jadi kaka nggak bisa kalau ada status pacaran. Tapi kaka menawarkan, sekarang kita pdkt aja. Saling mengenal karakter, kekurangan, dan kelebihan masng-masing. Bukankah itu inti dari pacaran?. Kalau kita cocok, kita lanjut ke tahap berikutnya. Bukan pacaran, tapi khitbah (lamaran). Gimana, Fa?.”
            Ifa memang tak berharap menjalin hubungan yang disebut pacaran. Karena ia memang tak ingin jatuh ke dalam lubang yang sama. Sebuah jurang penuh hiasan menyakitkan karena cinta. Yang ifa takutkan, Reihan akan menjauh dan benci padanya setelah mengetahui isi hati Ifa yang sebenarnya.
“Iya, Ifa. Ifa emang nggak bilang mau jadi pacar kaka. Ifa Cuma ngungkapin perasaan ifa aja. Kaka nggak akan benci sama ifa, ataupun ngejauh dari ifa. Ifa orangnya baik, kaka juga suka sama ifa. Sekarang kita saling mengenal aja ya. Kita bisa lebih deket dari kemarin-kemarin untuk mencapai tujuan suci.”
            Airmata Ifa terurai jelas menyapu paras teduhnya. Ia menahan malu karena berani mengungkap isi hatinya itu. Ia pun bahagia dipertemukan dengan insan sholeh seperti Reihan. Tak ada keraguan sedikitpun pada diri Ifa tuk berjuang bersama Reihan menggapai tujuan suci. Sejak kejujuran itu, keduanya semakin dekat. Mereka mulai mengenal karakter masing-masing lebih dalam lagi. Mulai terbuka dengan masalah yang dihadapi. Sungguh tak pernah terpikir sebelumnya dalam benak Ifa bahwa ia bisa sedekat ini dengan Reihan. Ifa bahagia.
* * *
            Ifa merasakan perubahan sikap Reihan. Ia berbeda. Belakangan ini ia terlihat ingin menjauh dari Ifa. Karena itu, Ifa pun ingin kejelasan dari Reihan.
“Kaka nggak ngerasa beda sama dede. Itu cuma perasaan de aja. Tapi, kaka memang ingin fokus dengan cita-cita kaka. Ngerti ya de, kurang dari 2 tahun lagi kaka akan melepas tugas sebagai mahasiswa. Kaka juga takut kalau kita terlalu dekat, kita tak bisa menjaga kesucian hubungan kita. Jadi kaka minta sekarang, kita fokus kuliah dulu. Tunggu kaka 2 tahun lagi ya, de,” jelas reihan.
            Ifa hanya tertegun dan menumpahkan kelu hatinya dengan tetesan airmata. Setelah kejadian itu, sikap Reihan semakin berubah. Reihan bahkan seringkali tak menganggap keberadaan Ifa, betapapun setiap hari mereka berpapasan di kampus. Dan hari itu saat Ifa kembali bertanya tentang sikap Reihan, hanya seloroh kata “Lupakan Aku” yang diucapkan Reihan. Hati Ifa runtuh begitu hening saat mendengar kata-kata itu. Sungguh Ifa tak mengerti apa maksud Reihan. Ia yang meminta Ifa menunggu hingga Ifa mengukir harap, dan ia pula yang meminta ifa melupakannya. Tangisnya membuncah. Tapi Ifa ikhlas. Hanya percikan harap yang terukir pada sanubari Ifa, “bila suatu hari Allah mempertemukan kita lagi, semoga kita bertemu dalam ikatan yang diridhoi-Nya, ikatan suci yang berhulu iman, bermuara takwa, dan kebersihan jiwa.”
* * *
            Ifa tersadar dari lamunannya. Peristiwa itu, kenangan dua tahun lalu. Kini ia bersanding dengan insan sholeh yang saat ini tersenyum teduh seraya berucap, “Hari ini, aku menjemputmu bersama janji suciku”. Itulah ucapan lembut suami Ifa, pria sholeh bernama Reihan Azka.
* * *


Kamis, 27 Februari 2014

Ikhlas itu Sulit, tapi perlu dilakukan

Ikhlas, satu kata yang mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan. Ikhlas menurut bahasa ialah tulus hati, membersihkan hati, serta memurnikan niat. Sedangkan menurut istilah, ikhlas berarti beribadah dengan niat hanya kepada Allah serta mengharap ridha-Nya.
Landasan niat yang ikhlas adalah memurnikan niat karna Allah. Ketika berbuat kebaikan seperti sering shalat malam, bersedekah, atau mungkin sering menolong orang lain, tak seharusnya amal tersebut dilakukan hanya untuk mencari perhatian sesama manusia atau hanya untuk terlihat baik dimata manusia. Cukup hanya Allah saja yang tau akan amal yang dilakukan. 
Seseorang yang hanya ingin mencari perhatian orang lain dalam berbuat kebaikan, maka jiwanya terkalahkan oleh perkara duniawi dan kemurnian amalnya ternoda sehingga keikhlasannya hilang.
Sebagai makhluk bumi yang seringkali tergoda oleh perkara duniawi, kita harus berhati-hati dalam beramal jika dalam hati hanya menginginkan sesuatu dari tujuan duniawi. Karena amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah dan dijadikannya seperti debu yang beterbangan sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al-Furqan:23 yang artinya: "Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan lalu Kami jadikan amal itu seperti debu yang beterbangan." 
Ikhlas memang sulit, tetapi kita harus belajar menjadi pribadi yang ikhlas. Dan segala sesuatu butuh proses untuk kemudian bisa terlaksana dengan mudah.
Berhati-hatilah bila dalam beramal dalam hati kita menginginkan sesuatu dari tujuan-tujuan duniawi. Karena hal tersebut bisa menjadi pertanda kebinasaan karena Allah tidak akan menerima amal tersebut dan hanya menjadikannya seperti debu yang berterbangan sebagaimana firman Allah yang tercantum dalam QS Al-Furqan: 23 yang artinya: "Dan kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu seperti debu yang berterbangan" - See more at: http://abufarras.blogspot.com/2013/03/arti-makna-ikhlas.html#sthash.HTC7Kh2a.dpuf
Berhati-hatilah bila dalam beramal dalam hati kita menginginkan sesuatu dari tujuan-tujuan duniawi. Karena hal tersebut bisa menjadi pertanda kebinasaan karena Allah tidak akan menerima amal tersebut dan hanya menjadikannya seperti debu yang berterbangan sebagaimana firman Allah yang tercantum dalam QS Al-Furqan: 23 yang artinya: "Dan kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu seperti debu yang berterbangan"
- See more at: http://abufarras.blogspot.com/2013/03/arti-makna-ikhlas.html#sthash.HTC7Kh2a.dpuf
Berhati-hatilah bila dalam beramal dalam hati kita menginginkan sesuatu dari tujuan-tujuan duniawi. Karena hal tersebut bisa menjadi pertanda kebinasaan karena Allah tidak akan menerima amal tersebut dan hanya menjadikannya seperti debu yang berterbangan sebagaimana firman Allah yang tercantum dalam QS Al-Furqan: 23 yang artinya: "Dan kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu seperti debu yang berterbangan"
- See more at: http://abufarras.blogspot.com/2013/03/arti-makna-ikhlas.html#sthash.HTC7Kh2a.dpuf

Semut Yang Hilang

Ruang kamarku selalu ramai. Ramai oleh boneka-boneka lucu, buku-buku sejak aku masih sekolah SD hingga kuliah, novel-novel keren, surat-surat cinta zaman ABG, pernak-pernik, dan benda lainnya. Mereka yang membuat kamarku ramai, penuh sesak meski mereka tak pernah berisik dan membuat kegaduhan seperti keramaian yang terjadi di pasar.
Semut-semut lucu menjadi penghuni baru di kamarku. Mungkin hanya mereka yang bernyawa selain aku, meski suara mereka tak sampai membuat kegaduhan di kamarku. Tapi kehadiran mereka mengingatkan aku akan sesuatu.
Ketika hatiku sulit tertidur dari keterpurukan rasa, ketika pula pikiranku terjerembab dalam kepenatan, semut itulah yang mengajarkanku menepis segala lelah berkepanjangan.
Semut tidak pernah putus asa menghadapi rintangan. Seperti ketika jalan yang akan dilaluinya ditutup, semut tak berhenti atau mundur. Tetapi semut itu terus berjalan mencari rute lain dan kemudian melanjutkan perjalanannya. Lalu buat apa aku pantang menyerah? semut sekecil itupun tak pernah pantang menyerah. Semut pun kuat, mampu mengangkat beban yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Dan aku tak sepantasnya rapuh ketika diterpa berbagai masalah.
Sejenak aku tersenyum mengingat kau yang seperti semut. Yang tiba-tiba menghampiri gula bukan untuk memakannya, melainkan untuk menjaganya. Dan darimulah aku belajar ketegaran. 
"Jika aku punya impian, aku ingin menjadi air matamu. Biar aku lahir dari matamu kala kau menangis, dan mati di tanganmu kala kau mengusap. Dan jika kau jadi air mataku, selamanya tak akan pernah aku menangis. Karena aku tak ingin kehilangan dirimu," begitu katamu.
Aku tak tau dimana keberadaanmu kini. Kehadiranmu selalu terwakilkan oleh semut yang selalu ada dimana saja :)