Senin, 11 September 2023

KONEKSI ANTAR MATERI-MODUL 1.2





Setelah saya menjalani pembelajaran dari Modul 1.1 hingga Modul 1.2 ini, berikut adalah hal yang menjadi pembelajaran bagi saya (model refleksi 4P):

1. Peristiwa

Momen yang paling penting atau menantang atau mencerahkan bagi saya dalam proses pembelajaran Modul 1.1 hingga Modul 1.2 adalah pada pembelajaran modul 1.1, saya belajar tentang filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang telah membuka pandangan saya tentang kodrat anak. Saya menyadari, sejatinya anak bukanlah tabula rasa yang seperti kertas kosong dan bisa kita tuliskan apa saja. Anak sudah membawa kodratnya sejak lahir, tugas kita sebagai pendidik adalah menuntunnya dengan cara menebalkan garis-garis samar yang sudah dimiliki oleh anak. Pembelajaran pada modul 1.2 pun telah mencerahkan bagi saya, karena sebelumnya saya menganggap bahwa dalam proses pembelajaran murid harus selalu mengikuti keinginan guru. Dari pembelajaran di modul 1.2 tentang nilai dan peran Guru Penggerak, saya menyadari bahwa hal terpenting dalam proses pembelajaran adalah berpihak pada murid dimana sebagai pendidik memberi kebebasan pada siswa untuk menggali pengetahuannya dengan tetap sesuai materi.
Kaitan antara Modul 1.1 dan 1.2 yang saya pahami adalah kedua modul ini menegaskan bahwa pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang berpihak pada murid. 


2. Perasaan

Saat momen itu terjadi saya merasa seperti bagaikan menemukan cahaya di tengah kegelapan. Jalan saya yang semula masih samar terkait pendidikan, kini sudah tercerahkan dengan materi modul 1.1 dan 1.2 bahwa pendidikan sebaiknya berpihak pada murid.


3. Pembelajaran

Sebelum momen tersebut terjadi saya berpikir bahwa sebagai pendidik, saya bertugas untuk mengatur anak sesuai keinginan saya karena anak ibarat kertas kosong yang bisa dituliskan apa saja. Sekarang saya berpikir bahwa sebagai pendidik, tugas saya adalah menuntun anak sesuai kodratnya, karena anak bukanlah tabula rasa, saya hanya bertugas menebalkan garis samar yang sudah dimiliki oleh anak.


4. Penerapan ke depan (Rencana)

Pengembangan diri yang sederhana, konkret dan rutin yang dapat saya lakukan sendiri dari sekarang, untuk membantu menguatkan nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak, di antaranya:

  • Melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid, dengan memberi kebebasan untuk menggali pengetahuannya namun tetap sesuai materi
  • Berkolaborasi dengan rekan sejawat dan siswa untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan
  • Senantiasa berperan aktif dalam berbagai kegiatan baik di sekolah maupun di luar sekolah yang menunjang profesi sebagai tenaga pendidik
  • Menggagas ide baru untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa
  • Selalu melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran demi menciptakan perbaikan pada pembelajaran selanjutnya

Kamis, 31 Agustus 2023

KONEKSI ANTAR MATERI - KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1.1

Kesimpulan dan Penjelasan Pemikiran-Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Pengajaran adalah bagian dari pendidikan. Pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberi ilmu untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Pokok pemikiran Ki Hadjar Dewantara, diantaranya:
-Pendidikan sebagai tuntunan
-Pendidikan sesuai kodrat alam dan kodrat zaman
-Prinsip pendidikan bukan tabula rasa
-Pendidikan sebagai budi pekerti
-Pendidikan berhamba pada anak
Dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara, terdapat istilah "Ing Ngarso Sung Tulodo Ing Madyo Mangun Karso Tut Wuri Handayani". Ing Ngarso Sung Tulodo artinya di depan memberikan teladan; Ing Madyo Mangun Karso, artinya di tengah memberi semangat dan Tut Wuri Handayani artinya di belakang memberi dorongan. Ki Hadjar Dewantara menekankan agar pendidikan selalu memperhatikan kodrat alam, kemerdekaan, kemanusiaan, kebudayaan, dan kebangsaan. Semua ini tujuannya yaitu agar terwujud pendidikan yang memerdekakan siswa.

Refleksi dari Pengetahuan dan Pengalaman Baru

Setelah mempelajari materi modul 1.1, berikut ini refleksi tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara:
1. Apa yang Saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum Saya mempelajari modul 1.1?
Sebelum mempelajari modul 1.1, ada beberapa hal yang saya yakini tentang murid dan pembelajaran di kelas, di antaranya:
-Saya memberikan pengajaran menggunakan metode yang cocok diterapkan menurut saya, tetapi tidak memperhatikan pembelajaran seperti apa yang dibutuhkan dan diinginkan siswa.
-Sebagai guru, tugas saya yaitu aktif memberikan pengajaran. Sedangkan siswa hanya duduk tertib menyimak materi yang saya berikan.
-Saya tidak pernah membuat kesepakatan kelas pada awal pembelajaran.
-Sumber belajar yang digunakan siswa hanya buku

2. Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Saya setelah mempelajari modul ini?
Setelah mempelajari modul ini, ada yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya, diantaranya:
-Saya memperhatikan kebutuhan belajar siswa, dan memberi kebebasan untuk siswa dalam membangun pengetahuannya sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan berpihak kepada siswa
-Sebagai guru, tugas saya adalah menuntun anak untuk menggali potensi yang dimilikinya sehingga anak pun berperan aktif dalam pembelajaran, tidak hanya guru saja yang aktif memberikan materi
-Seharusnya sejak awal memasuki tahun ajaran baru, saya melakukan asesmen diagnostik pada siswa agar bisa mengetahui bagaimana gaya belajar siswa, metode belajar seperti apa yang diinginkan oleh siswa agar dapat tercipta pembelajaran menyenangkan sesuai keinginan siswa.
-Sumber belajar tidak hanya berasal dari buku. Seiring perkembangan zaman, banyak sekali sumber belajar dari internet. Begitu juga bagi siswa, bisa mendapat banyak pengetahuan dari internet, bahkan bisa menggunakan gadget untuk sarana belajar seperti menggunakan aplikasi berbasis edukasi.

3. Apa yang dapat segera Saya terapkan lebih baik agar kelas Saya mencerminkan pemikiran KHD?
Membaca adalah jembatan ilmu. Pertama kali yang saya lakukan adalah membaca berbagai sumber ilmu terkait pemikiran KHD yang berfokus pada merdeka belajar. Sumber ilmu tersebut bisa saya dapatkan melalui pembelajaran dalam Pendidikan Guru Penggerak ini, baik itu materi dari LMS maupun dari instruktur beserta fasilitator dan pengajar praktik.
Saya akan segera menerapkan asesmen diagnostik untuk mengetahui minat dan bakat siswa serta metode pembelajaran yang disukai siswa. Setelah mengetahui minat dan bakat siswa, saya pun akan menggali potensi yang ada pada diri siswa hingga mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Sebagai pendidik, saya harus menjadi teladan yang baik bagi siswa. Selain itu saya akan menumbuhkan pendidikan karakter pada siswa misalnya melakukan pembiasaan sebelum belajar dengan berdo'a, selalu mengucapkan tiga kata sakti yaitu tolong, terimakasih dan maaf. Tidak lupa juga mengajarkan siswa untuk menghargai perbedaan pendapat saat berdiskusi, kemudian tolenransi dengan teman yang berbeda agama, serta menuntun siswa mengenal dan mencinntai budaya daerah.

Sabtu, 05 Januari 2019

Semua berawal dari Foundation

"Foundation dulu, matrikulasi kemudian ". Begitulah kira-kira deretan kata yang tertulis di laman facebook Ibu Profesional Karawang yang sempat aku baca.
Selama ini foundation yang akrab banget sama aku, ya foundation makeup alias alas bedak 😂😂😂. Sama-sama dasar, tapi beda hey beda 😅. Foundation di komunitas Ibu Profesional adalah kelas persiapan sebelum memasuki tahap matrikulasi. Uppsss denger kata "matrikulasi" inget jaman muda jadinya 😁.
Kenapa sih aku mau-maunya ikutan kelas foundation? padahal nih yaaaa.... kalopun pengen dapet ilmu dari komunitas Ibu Profesional bisa aja kan langsung ikutan seminar-seminarnya aja, ga perlu toh ikutan kelas persiapan2 segala. Apalagi mesti ikutan matrikulasi. Duh ngapain?!?. Eitsss, tunggu dulu. Ga sekedar ilmu dari seminar-seminar yang pengen aku dapetin di komunitas Ibu profesional. Lebih dari itu, aku pengen banget punya banyak wawasan melebihi wawasan yang aku dapet di seminar. Karena ilmu tak akan pernah cukup, akan selalu ada pembelajaran baru. Dan tahapan foundation ini adalah cikal bakal bagiku memulai segalanya. Seperti bayi yang baru terlahir dan belajar memulai segalanya.
InsyaAllah, tak akan pernah ada ilmu yang sia-sia. Sekecil apapun hal yang ku pelajari dari kelas foundation, tentunya akan sangat bermanfaat. Itulah sebabnya kenapa aku ikut kelas foundation ini .

Minggu, 01 Februari 2015

Meraih Rembulan

Terlalu lama rasanya
Kau coba aku, ya Tuhan
Terlalu jauh ku berjalan
Mencari dan mencari
Adakah lagi yang lebih sakit
Dari yang kurasakan kini
Mampukah aku untuk bertahan
............................................
(Meraih Rembulan-Song by: Nike Ardila)
 
       Tuhan, rasanya....cobaan yang Kau beri sudah terlalu lama. Bahkan sampai aku jengah menghitung berapa banyak laki-laki yang menyakitiku atas nama cinta. Aku tahu, bukan cinta yang salah. Tapi insan yang Kau anugerahkan cintalah yang salah. Aku? benarkah aku korban cinta?. Aku yang terlalu baik atau mereka yang terlalu jahat?. Atau Kau senang mengujiku, Tuhan? hingga seseorang yang aku anggap insan paling baik yang pernah hadir di kehidupanku pun nyatanya jauh dari prasangka baikku. Nyatanya....dialah yang paling menghancurkan aku. Menghancurkan hati, pikiran, dan hidupku. Ini bukan sekedar ucapan berlebihan. Nyatanya seperti itu, aku hancur. 
         Ingin rasanya aku masuk ke dalam otaknya, mengusik pikirannya, hingga aku bisa tahu....apa yang ada dalam pikirannya saat mengatakan cinta padaku?. Apa dia memang sudah merencanakan untuk menyakitiku? apa baginya, aku hanyalah boneka yang bisa ia mainkan sesukanya?. Sungguh, Kau Maha segalanya Tuhan. Aku percaya, Kau telah sediakan seseorang yang bisa membuatku bahagia tanpa ada lagi goresan luka di hatiku, tanpa ada lagi tetesan airmata yang setiap malam membuatku menderita. 
        Tuhan, walau bagaimanpun....sejahat apapun ia, sekejam apapun ia menggores luka di hatiku, aku tetap ingin ia bahagia. Biar saja ia beranggapan aku bodoh, karena masih saja mau mendo'akannya meski ia telah menyakitiku. Biar saja ia merendahkan aku, karna aku masih mencintainya meski ia telah berhasil melukaiku. Biar saja....aku hanya ingin ia bahagia. 
Masih adakah harapanku
Masih adakah kesempatan
Untuk meraih rembulan
...............................
(Meraih Rembulan-Song by: Nike Ardila)

         Aku yakin, Kau tak akan membiarkan hamba-Mu terus menderita. Aku yakin, suatu hari...aku bisa meraih rembulan. Aku.....selalu pasrah, menyerahkan sepenuhnya pada-Mu atas urusan hati ini Tuhan. Kau tak pernah tidur. Kau pun tahu, siapa saja yang menyakitiku. Semoga Engkau tak menghukum mereka atas perbuatan mereka yang telah menghancurkan hatiku.

Akan tetapku pertahankan
Di jalan-MU, ya Tuhan
Tantangan berat tlah Kau berikan
Membuat aku goyah akan hidup
Kembali kusadari diriku
Terasa ada yang tak sempurna
Bukanku sesali keadaan namun kenyataan
......................................
 (Meraih Rembulan-Song by: Nike Ardila)

Selasa, 06 Januari 2015

Assalamu'alaikum Beijing Tidak Layak Tayang di Indonesia

Menjelang akhir tahun 2014, sosial media ramai mempromosikan film yang diangkat dari novel karya idola saya, Asma Nadia. Saya sempat membeli novelnya, tapi belum sempat dibaca udah keburu dipinjem temen dan hilang :(. Saya penasaran, sangat ingin membaca novelnya. Tapi...keburu difilm-kan, dan belum juga beli lagi novelnya.  Alhasil, saya terus-terusan mantengin jadwal tayang film ini. 
Tanggal 30 Januari 2014 adalah hari pertama tayang film ini di seluruh bioskop Indonesia. Malam hari tanggal 29 Januari 2014, saya gak tenang..gak bisa tidur. Terus ngulik jadwal nonton. Sampai subuh tiba, saya baru bisa senyum. Karena jadwal nonton baru diupdate dan benar ternyata, film ini tayang tanggal 30 Januari 2014. Baiklah, saat itu saya hubungi teman dan ajak dia nonton. Tapi...pagi itu ada kegiatan mendadak yang mengharuskan saya membatalkan rencana nonton :(.
Esok hari, tanggal 31 Desember 2014. Saya mengcancel semua jadwal demi nonton film ini. Sepagi mungkin saya berangkat ke bioskop, antisipasi antri tiket. Tepat pukul 11.45 filmnya dimulai. 
Awal cerita, ada dialog yang cukup menghentakkan hati saya. 
Dewa: "Demi Allah, aku selalu menjaga perasaan kesetiaanku ini sama kamu"
Asmara: "Jangan sandingkan nama Tuhan dengan kebohongan!".
Yang terjadi sebenernya adalah, Dewa menghianati Asmara. Ia mengakui kesalahannya saat detik-detik menjelang pernikahan mereka. Hal ini jelas bertentangan dengan ucapan Dewa yang mengatakan 'setia', dan ia membawa nama Allah. Itu hal yang sering terjadi di kehidupan nyata, dan pernah juga saya alami. Heu...curcol.
Kesalahan yang dilakukan Dewa sangat membuat Asmara terpukul, hingga Asmara memutuskan bekerja di Beijing. Meski Dewa menyusulnya ke Beijing, tapi Asmara enggan membuka hati lagi untuk Dewa. Ia lebih nyaman dengan seseorang yang baru dikenalnya bernama Zhong Wen. 
Film ini bukan hanya membuat airmata memenuhi pipi, tapi juga mengundang derai tawa. Kejenakaan muncul dari tokoh bernama Sekar dan Ridwan. Lalu, bagaimana akhir perjalanan cinta Asmara? bagaimana pula peran Zhong Wen dalam kehidupan Asmara?.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari film ini, terutama tentang ketulusan mencintai :). 
Saya rasa, film ini tidak layang tayang di Indonesia saja, tapi di seluruh dunia. Dunia harus tahu, bahwa Indonesia punya film berkualitas seperti ini yang harus ditonton. 
Ada yang belum nonton? Ayo segera nonton sekarang jugaaa!!!!! sebelum menyesal nantinya :).

Jumat, 28 Februari 2014

Siluet Kata

1
Pria bijak menyapaku dalam sepi
Mengurai do’a dan secarik semangat
Menghidupkan malamku yang selalu hening
2
Pria bijak jangan biarkan perih mengiris-iris lagi
Biarlah semua bermuara di lautan duka
Menenggelamkan benci dan kecewamu atas masalalumu
3
Aku kagum akan perangaimu
Masalalu, entah apapun itu celotehmu
Menjadi renungan terdalam
Hidup bukan hanya sebatas akademik, dan hidupmu penting bagiku
4
Dan ketika malam menyergap merayap pada resah,
Kau membuat hatiku tersentak dengan rangkaian nasehatmu
Menderaikan airmata yang terbendung membasahi pipi
“Hidup itu sebenarnya memang benar pilihan, dan sangat ditentukan dengan pilihan”, bait kata terakhirmu malam itu
5
Seperti puisi yang membius relung hati
Kata2mu selalu saja menjadi penyegar dahaga jiwa
Tak ada do’a setulus hati yang kutemukan
Kecuali dari paras teduhmu
6
Zafran, begitulah aku memanggilmu
Bukan karna sekedar aku mengidolakan tokoh itu
Tapi karna berharganya kau bagiku
7
Aku berdiri di pintu pagar ruang hatimu
Menyuguhkan segenggam rasa yang aku tak tau apa namanya
Dan aku tak berharap kau mengizinkanku menerobos hatimu
8
Mataku basah saat kau bicara tentangnya
Detik itu hatiku mengabarkan kenyataan
Bahwa cintalah yang aku genggam untukmu
9
Kau tau, sejak pertama melihat matamu
Hatiku tergerak menelusuk tentangmu jauh lebih dalam
Mungkin sejak saat itu ada cinta untukmu
Hanya saja aku tak menyadarinya
10
Dan ketika aku memilih mencintaimu dalam diam,
Kaupun tau tentang cinta itu
“Jangan takut dengan cinta, takutlah bila kita tidak bisa merasakan cinta”, katamu menenangkanku
11
Aku hanya takut kau tak ingin dicintai
Takut kau tak nyaman dengan cinta ini
Dan seperti sediakala, kau membiusku dengan nasehat
Juga dengan untaian do’a penyejuk
Yang cukup menjatuhkan air dimataku
12
Aku dilema, sungguh dalam kebimbangan
Ingin menjauh
Tapi ingin pula selalu dekatmu
13
Bukan aku merasa tak nyaman dengan keadaan
Hanya hatiku yang semakin bergetar bila dekatmu
14
Aku memang selalu takut mencintai,
Apalagi bila cinta itu bertepuk sebelah tangan
Bukan aku berharap kaupun mencintaiku
Hanya tak ingin kau jengah dengan cintaku
15
Rindu selalu saja menyapaku
Cukup lama aku tak melihat senyum teduhmu
16
Saat aku berdo’a, “Tuhan, pertemukan aku dengannya satu detik saja”
Tuhan pun menjawab do’aku
Dan hatiku runtuh begitu hening melihatmu didepanku
Benar saja, hanya satu detik
Karna aku melangkah cepat menutup malu melihatmu
17
Ketika saat ini pun kau menjauh
Nyatanya hatiku masih saja bergetar karnamu
Dan mimpi tentangmu belum saja selesai
18
Aku memang bukan hanya mengagumimu layaknya penggemar terhadap idola
Tapi aku mencintaimu, lebih dari sekedar idola
19
Bersediakah kau mencintaiku? Aku rasa tidak
Kau tetap idola, yang tak mungkin mencintai penggemarnya
20
Benar kata sahabatmu,
Bagaimana mungkin aku mencintai seseorang sampai begini
21
Aku tak pernah tau apa alasannya
Karna akupun baru merasakan cinta sedalam ini
Cinta yang kata sahabatmu, “tak pernah diberi sesuatu yang spesial, tak pernah ada perlakuan lebih dari sang laki2, tapi tak pernah marah, dan itu impossible....”
22
Kekasih pertama bukan berarti cinta pertama
Dan aku baru merasakan cinta seperti ini
Mungkinkah kau cinta pertamaku? Entahlah
Hanya Tuhan yang tau
24
Aku tak pernah berharap apapun
Hanya bahagiamu yang selalu aku harap dalam setiap nafasku
25
Kenangan kita memang tak banyak
Tapi sedikit saja kau berceloteh
Telah tersimpan lama dalam memoriku
Entah sampai kapan
26
Entah dimana keberadaanmu kini
Yang aku tau, kau masih tetap dihatiku
Kau masih saja indah bersama kata-katamu yang menjadi siluet...

#Aku tak ingin dianggap spesial olehmu, yang aku tau...kau selalu spesial untukku zafran
Biarkan kata-katamu menari indah bersama sosokmu yang belum saja hilang dari benakku


Jemput Aku Bersama Janji Sucimu



           Awan nan putih berkejaran riang di birunya langit. Kicauan burung nan merdu seakan menambah keceriaan hari yang cerah. Hari itu, hari yang indah. Tak ada mendung, tak ada hujan setetes pun. Keadaan yang tak biasa dari hari sebelumnya. Mengingat bulan ini nyaris tak ada hari dengan iringan cuaca cerah. Keindahan hari yang tak terlukiskan itu mendukung suasana hati seorang gadis yang tak sempat terlukis oleh apapun. Ifa, seorang gadis berkerudung nan cantik itu kerap meraih kebahagiaan yang belum pernah ia duga sebelumnya. Betapa tidak, setiap insan mengharapkan pernikahan yang sakral. Yang hanya terjadi satu kali seumur hidup. Dan itulah yang kini dirasakan Fairuz Alifah yang akrab disapa ifa.
“Alhamdulilllah....!,” riuh suara hadirin saat mempelai pria mengucapkan ijab kabul.
            Terlihat rona bahagia pada sorot mata Ifa. Airmata jernihnya tak dapat lagi ia bendung. Seluruh hadirin yang menyaksikan detik-detik sakral itu ikut tenggelam dalam kebahagiaan. Ifa bahkan tak sanggup menatap ikhwan di hadapannya yang kini resmi menjadi suaminya. Seorang pria sholeh dan tampan yang akan mendampinginya mengarungi bahtera hidup. Airmata masih mengalir di pipi merah Ifa. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Masa lalu, masa yang membuatnya tersentak saat hari bahagia ini tiba.
* * *
            Ifa, dara manis berkerudung itu semakin tak mengerti dengan perasaannya. Ia terpenjara dalam bayang-bayang seseorang. Reihan Azka, kakak tingkatnya yang kini menjabat sebagai Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa telah membuat waktunya tersita. Pikirannya diselimuti angan tentang pria itu. Belum lama ia mengenalnya. Mungkin selama 2 semester ini, ia baru melihat Reihan. Saat itu Reihan berada diantara kandidat Ketua HIMA (Himpunan Mahasiswa) dalam pemilihan Ketua HIMA periode 2010-2011. Reihan termasuk salah satu kandidat yang lulus seleksi dari sepuluh mahasiswa yang mencalonkan diri sebagai Ketua HIMA. Dan yang lulus seleksi ini terdiri dari empat orang. Hasil pemilihan Ketua tersebut adalah, Iman Nugraha sebagai Ketua Umum, Reihan Sekretaris Umum, dan Dewiana sebagai Bendahara Umum.
            Periode baru HIMA memerlukan kepengurusan yang baru pula. Karena itulah, diadakan seleksi pengurus HIMA periode 2010-2011. Fairuz Alifah, dkk tak mau ketinggalan mengikuti seleksi ini. Saat itu, seleksi terdiri dari test tulis dan interview. Ifa yang semangat mengikuti seleksi, sebenarnya tak begitu berharap bahwa ia akan lulus seleksi ini. Hanya mencari pengalaman. Terlebih lagi, ada seseorang yang menarik perhatiannya sejak pemilihan Ketua HIMA. Yah itung-itung melihat sang idola.
            Tiba saatnya Ifa test interview. Sebelumnya, setiap peserta seleksi harus mengambil kertas yang digulung dan berisi nama penguji. Dengan hati gemetar, Ifa mengambil salah satu kertas tersebut. Perlahan ia membuka gulungan kertas itu, hingga terbaca nama salah satu penguji. Dua puluh menit berlalu. Ifa masih gemetar saat ia harus memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat 5 orang penguji dan peserta seleksi yang juga mendapat giliran interview. Ia melangkah pelan, melempar pandangan pada sudut ruangan. Ia melihat sesosok laki-laki berparas teduh, bersih, dan tampan. Laki-laki itu adalah Reihan, Sekretaris Umum HIMA yang menjadi pengujinya. Ifa menghampiri Reihan dan duduk berhadapan dengan Reihan layaknya seseorang yang diwawancara. Dengan lugas Reihan melontarkan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh Ifa. Sesekali Reihan menundukkan kepala, melihat-lihat kertas yang bertuliskan penilaian hasil wawancara. Ifa hanya tertegun melihat idolanya, mencuri pandang sekenanya. Terlihat desiran gugup pada rona wajah Ifa. Beruntunglah interview itu segera berakhir. Karena jika terlalu  lama, khawatir degup jantungnya terdengar merdu oleh Reihan.
* * *
            Tiba saatnya pengumuman peserta seleksi pengurus HIMA. Dengan diselimuti penasaran tinggi, Ifa memberanikan diri menanyakan hasil seleksi dengan mengirim sms Sekretaris Umum yang bernama Reihan.
“Wa alaikumussalam. Iya, Fairuz. Pengumumannya baru akan saya publikasikan di FB besok pagi.”
Ifa sedikit kaget, kenapa Reihan bisa tahu kalau ia yang mengirim sms. Dan baru Ifa sadari, Reihan adalah Sekretaris Umum. Tentu Reihan menyimpan data peserta seleksi. Seusai dari pertanyaan hasil seleksi itu, obrolan mereka berlanjut meski tak smsan selama berjam-jam. Terlepas dari urusan HIMA, mereka semakin sering berkomunikasi. Mulai dari sms-an, hingga telponan hanya untuk penghilang jenuh.
Hari itu tepatnya 27 Agustus 2010, diadakan acara bedah buku di salah satu kampus ternama di Bandung. Ifa begitu antusias menghadiri acara tersebut. Karena ia memang senang dengan dunia kepenulisan. Tapi, sifat manjanya yang selalu ingin ditemani membuat ia tergerak mengajak teman lainnya. Alhasil, tak ada satupun yang berminat selain Reihan. Saat itulah hari pertama mereka pergi berdua. Sikap Reihan yang dingin sebeku es, hari itu terasa hangat. Tak ada lagi kata yang pantas menggambarkan suasana hati Ifa saat itu selain grogi tingkat tinggi, juga nyaman berada dekat Reihan.
* * *
Tak dapat dipungkiri, semakin hari perasaan Ifa semakin tak menentu. Ia cenderung terlihat lebih enerjik dari biasanya, selalu tampak bahagia dalam setiap kesempatan, dan semangatnya membara ketika bayangan Reihan melintas di pikirannya. Inikah yang dinamakan cinta?. Ya, rasa itu. Bukan lagi sekedar rasa kagum. Melainkan tumbuh dengan indahnya menjadi butir-butir cinta. Ifa bimbang. Tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ini bukan pertama kalinya ia dekat dengan sebuah rasa yang disebut cinta. Tapi, inilah pertama kalinya ia merasakan cinta yang tulus dan amat mendalam serta membuatnya tersiksa dengan perasaan itu.
Ifa perlu seseorang yang memberikan seuntai nasihat yang mungkin bisa membuatnya sedikit terlepas dari kebimbangan. Saat itu, tepat tanggal 5 September 2010 pukul 11.34 WIB terpapar moment yang tak kan pernah Ifa lupakan.
“Salahkah bila wanita menyatakan cintanya terlebih dulu?,” bunyi sms Ifa pada seseorang.
“Ngga salah, Fa. Salahkah Khadijah menyatakan cintanya pada Rasulullah?.”
Berulang kali Ifa menanyakan perkara itu, dan berulang kali pula orang tersebut menjawab dengan jawaban yang sama. Pada intinya, ia menyemangati Ifa agar berani mengatakan cinta pada seseorang yang Ifa cintai. Ifa pun ragu. Bagaimana mungkin seorang Ifa yang acapkali acuh dengan cinta, kini merasa tersiksa karena telah memendam cinta.
“Emangnya Ifa lagi cinta sama siapa? Sini biar kaka yang ngomong sama dia kalau Ifa gak berani,” tanya Reihan yang saat itu menjadi tempat nasihat terbaik bagi Ifa.
“Kalau sama kaka, gimana? Hehe....,” jujur Ifa. Reihan bertanya tentang keseriusan ucapan Ifa. Setengah ragu, Ifa pun akhirnya menyatakan keseriusan perasaanya, meski sebelumnya ia berulang kali mengatakan kalau itu hanya gurauan. Dua jam kemudian Reihan melontarkan jawaban yang menggetarkan jiwa Ifa.
“Maaf ya Fa, lama. Ka salut sama Ifa. Ifa hebat banget, udah berani jujur. Hmm..setelah kaka konsultasi pada salah satu sahabat kaka, dia bilang: ‘Jangan, mungkin itu adalah godaan buat kamu’. Begitu Fa, katanya. Jadi kaka nggak bisa kalau ada status pacaran. Tapi kaka menawarkan, sekarang kita pdkt aja. Saling mengenal karakter, kekurangan, dan kelebihan masng-masing. Bukankah itu inti dari pacaran?. Kalau kita cocok, kita lanjut ke tahap berikutnya. Bukan pacaran, tapi khitbah (lamaran). Gimana, Fa?.”
            Ifa memang tak berharap menjalin hubungan yang disebut pacaran. Karena ia memang tak ingin jatuh ke dalam lubang yang sama. Sebuah jurang penuh hiasan menyakitkan karena cinta. Yang ifa takutkan, Reihan akan menjauh dan benci padanya setelah mengetahui isi hati Ifa yang sebenarnya.
“Iya, Ifa. Ifa emang nggak bilang mau jadi pacar kaka. Ifa Cuma ngungkapin perasaan ifa aja. Kaka nggak akan benci sama ifa, ataupun ngejauh dari ifa. Ifa orangnya baik, kaka juga suka sama ifa. Sekarang kita saling mengenal aja ya. Kita bisa lebih deket dari kemarin-kemarin untuk mencapai tujuan suci.”
            Airmata Ifa terurai jelas menyapu paras teduhnya. Ia menahan malu karena berani mengungkap isi hatinya itu. Ia pun bahagia dipertemukan dengan insan sholeh seperti Reihan. Tak ada keraguan sedikitpun pada diri Ifa tuk berjuang bersama Reihan menggapai tujuan suci. Sejak kejujuran itu, keduanya semakin dekat. Mereka mulai mengenal karakter masing-masing lebih dalam lagi. Mulai terbuka dengan masalah yang dihadapi. Sungguh tak pernah terpikir sebelumnya dalam benak Ifa bahwa ia bisa sedekat ini dengan Reihan. Ifa bahagia.
* * *
            Ifa merasakan perubahan sikap Reihan. Ia berbeda. Belakangan ini ia terlihat ingin menjauh dari Ifa. Karena itu, Ifa pun ingin kejelasan dari Reihan.
“Kaka nggak ngerasa beda sama dede. Itu cuma perasaan de aja. Tapi, kaka memang ingin fokus dengan cita-cita kaka. Ngerti ya de, kurang dari 2 tahun lagi kaka akan melepas tugas sebagai mahasiswa. Kaka juga takut kalau kita terlalu dekat, kita tak bisa menjaga kesucian hubungan kita. Jadi kaka minta sekarang, kita fokus kuliah dulu. Tunggu kaka 2 tahun lagi ya, de,” jelas reihan.
            Ifa hanya tertegun dan menumpahkan kelu hatinya dengan tetesan airmata. Setelah kejadian itu, sikap Reihan semakin berubah. Reihan bahkan seringkali tak menganggap keberadaan Ifa, betapapun setiap hari mereka berpapasan di kampus. Dan hari itu saat Ifa kembali bertanya tentang sikap Reihan, hanya seloroh kata “Lupakan Aku” yang diucapkan Reihan. Hati Ifa runtuh begitu hening saat mendengar kata-kata itu. Sungguh Ifa tak mengerti apa maksud Reihan. Ia yang meminta Ifa menunggu hingga Ifa mengukir harap, dan ia pula yang meminta ifa melupakannya. Tangisnya membuncah. Tapi Ifa ikhlas. Hanya percikan harap yang terukir pada sanubari Ifa, “bila suatu hari Allah mempertemukan kita lagi, semoga kita bertemu dalam ikatan yang diridhoi-Nya, ikatan suci yang berhulu iman, bermuara takwa, dan kebersihan jiwa.”
* * *
            Ifa tersadar dari lamunannya. Peristiwa itu, kenangan dua tahun lalu. Kini ia bersanding dengan insan sholeh yang saat ini tersenyum teduh seraya berucap, “Hari ini, aku menjemputmu bersama janji suciku”. Itulah ucapan lembut suami Ifa, pria sholeh bernama Reihan Azka.
* * *