Awan nan putih berkejaran riang di
birunya langit. Kicauan burung nan merdu seakan menambah keceriaan hari yang
cerah. Hari itu, hari yang indah. Tak ada mendung, tak ada hujan setetes pun.
Keadaan yang tak biasa dari hari sebelumnya. Mengingat bulan ini nyaris tak ada
hari dengan iringan cuaca cerah. Keindahan hari yang tak terlukiskan itu mendukung
suasana hati seorang gadis yang tak sempat terlukis oleh apapun. Ifa, seorang
gadis berkerudung nan cantik itu kerap meraih kebahagiaan yang belum pernah ia
duga sebelumnya. Betapa tidak, setiap insan mengharapkan pernikahan yang
sakral. Yang hanya terjadi satu kali seumur hidup. Dan itulah yang kini
dirasakan Fairuz Alifah yang akrab disapa ifa.
“Alhamdulilllah....!,” riuh suara
hadirin saat mempelai pria mengucapkan ijab kabul.
Terlihat
rona bahagia pada sorot mata Ifa. Airmata jernihnya tak dapat lagi ia bendung.
Seluruh hadirin yang menyaksikan detik-detik sakral itu ikut tenggelam dalam
kebahagiaan. Ifa bahkan tak sanggup menatap ikhwan di hadapannya yang kini
resmi menjadi suaminya. Seorang pria sholeh dan tampan yang akan mendampinginya
mengarungi bahtera hidup. Airmata masih mengalir di pipi merah Ifa. Tiba-tiba
ia teringat akan sesuatu. Masa lalu, masa yang membuatnya tersentak saat hari
bahagia ini tiba.
* * *
Ifa,
dara manis berkerudung itu semakin tak mengerti dengan perasaannya. Ia
terpenjara dalam bayang-bayang seseorang. Reihan Azka, kakak tingkatnya yang
kini menjabat sebagai Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa telah membuat waktunya
tersita. Pikirannya diselimuti angan tentang pria itu. Belum lama ia
mengenalnya. Mungkin selama 2 semester ini, ia baru melihat Reihan. Saat itu
Reihan berada diantara kandidat Ketua HIMA (Himpunan Mahasiswa) dalam pemilihan
Ketua HIMA periode 2010-2011. Reihan termasuk salah satu kandidat yang lulus
seleksi dari sepuluh mahasiswa yang mencalonkan diri sebagai Ketua HIMA. Dan
yang lulus seleksi ini terdiri dari empat orang. Hasil pemilihan Ketua tersebut
adalah, Iman Nugraha sebagai Ketua Umum, Reihan Sekretaris Umum, dan Dewiana
sebagai Bendahara Umum.
Periode
baru HIMA memerlukan kepengurusan yang baru pula. Karena itulah, diadakan
seleksi pengurus HIMA periode 2010-2011. Fairuz Alifah, dkk tak mau ketinggalan
mengikuti seleksi ini. Saat itu, seleksi terdiri dari test tulis dan interview.
Ifa yang semangat mengikuti seleksi, sebenarnya tak begitu berharap bahwa ia
akan lulus seleksi ini. Hanya mencari pengalaman. Terlebih lagi, ada seseorang
yang menarik perhatiannya sejak pemilihan Ketua HIMA. Yah itung-itung melihat
sang idola.
Tiba
saatnya Ifa test interview. Sebelumnya, setiap peserta seleksi harus mengambil
kertas yang digulung dan berisi nama penguji. Dengan hati gemetar, Ifa
mengambil salah satu kertas tersebut. Perlahan ia membuka gulungan kertas itu,
hingga terbaca nama salah satu penguji. Dua puluh menit berlalu. Ifa masih
gemetar saat ia harus memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat 5 orang
penguji dan peserta seleksi yang juga mendapat giliran interview. Ia melangkah
pelan, melempar pandangan pada sudut ruangan. Ia melihat sesosok laki-laki
berparas teduh, bersih, dan tampan. Laki-laki itu adalah Reihan, Sekretaris
Umum HIMA yang menjadi pengujinya. Ifa menghampiri Reihan dan duduk berhadapan
dengan Reihan layaknya seseorang yang diwawancara. Dengan lugas Reihan
melontarkan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh Ifa. Sesekali Reihan
menundukkan kepala, melihat-lihat kertas yang bertuliskan penilaian hasil
wawancara. Ifa hanya tertegun melihat idolanya, mencuri pandang sekenanya. Terlihat
desiran gugup pada rona wajah Ifa. Beruntunglah interview itu segera berakhir.
Karena jika terlalu lama, khawatir degup
jantungnya terdengar merdu oleh Reihan.
* * *
Tiba
saatnya pengumuman peserta seleksi pengurus HIMA. Dengan diselimuti penasaran
tinggi, Ifa memberanikan diri menanyakan hasil seleksi dengan mengirim sms
Sekretaris Umum yang bernama Reihan.
“Wa alaikumussalam. Iya, Fairuz.
Pengumumannya baru akan saya publikasikan di FB besok pagi.”
Ifa sedikit kaget, kenapa
Reihan bisa tahu kalau ia yang mengirim sms. Dan baru Ifa sadari, Reihan adalah
Sekretaris Umum. Tentu Reihan menyimpan data peserta seleksi. Seusai dari
pertanyaan hasil seleksi itu, obrolan mereka berlanjut meski tak smsan selama
berjam-jam. Terlepas dari urusan HIMA, mereka semakin sering berkomunikasi.
Mulai dari sms-an, hingga telponan hanya untuk penghilang jenuh.
Hari itu tepatnya 27
Agustus 2010, diadakan acara bedah buku di salah satu kampus ternama di
Bandung. Ifa begitu antusias menghadiri acara tersebut. Karena ia memang senang
dengan dunia kepenulisan. Tapi, sifat manjanya yang selalu ingin ditemani
membuat ia tergerak mengajak teman lainnya. Alhasil, tak ada satupun yang
berminat selain Reihan. Saat itulah hari pertama mereka pergi berdua. Sikap
Reihan yang dingin sebeku es, hari itu terasa hangat. Tak ada lagi kata yang
pantas menggambarkan suasana hati Ifa saat itu selain grogi tingkat tinggi,
juga nyaman berada dekat Reihan.
* * *
Tak dapat dipungkiri,
semakin hari perasaan Ifa semakin tak menentu. Ia cenderung terlihat lebih
enerjik dari biasanya, selalu tampak bahagia dalam setiap kesempatan, dan
semangatnya membara ketika bayangan Reihan melintas di pikirannya. Inikah yang
dinamakan cinta?. Ya, rasa itu. Bukan lagi sekedar rasa kagum. Melainkan tumbuh
dengan indahnya menjadi butir-butir cinta. Ifa bimbang. Tak tahu apa yang harus
ia lakukan. Ini bukan pertama kalinya ia dekat dengan sebuah rasa yang disebut
cinta. Tapi, inilah pertama kalinya ia merasakan cinta yang tulus dan amat
mendalam serta membuatnya tersiksa dengan perasaan itu.
Ifa perlu seseorang yang
memberikan seuntai nasihat yang mungkin bisa membuatnya sedikit terlepas dari
kebimbangan. Saat itu, tepat tanggal 5 September 2010 pukul 11.34 WIB terpapar
moment yang tak kan pernah Ifa lupakan.
“Salahkah bila wanita menyatakan cintanya
terlebih dulu?,” bunyi sms Ifa pada seseorang.
“Ngga salah, Fa. Salahkah Khadijah
menyatakan cintanya pada Rasulullah?.”
Berulang kali Ifa
menanyakan perkara itu, dan berulang kali pula orang tersebut menjawab dengan
jawaban yang sama. Pada intinya, ia menyemangati Ifa agar berani mengatakan
cinta pada seseorang yang Ifa cintai. Ifa pun ragu. Bagaimana mungkin seorang
Ifa yang acapkali acuh dengan cinta, kini merasa tersiksa karena telah memendam
cinta.
“Emangnya Ifa lagi cinta sama siapa?
Sini biar kaka yang ngomong sama dia kalau Ifa gak berani,” tanya Reihan yang
saat itu menjadi tempat nasihat terbaik bagi Ifa.
“Kalau sama kaka, gimana? Hehe....,”
jujur Ifa. Reihan bertanya tentang keseriusan ucapan Ifa. Setengah ragu, Ifa
pun akhirnya menyatakan keseriusan perasaanya, meski sebelumnya ia berulang
kali mengatakan kalau itu hanya gurauan. Dua jam kemudian Reihan melontarkan
jawaban yang menggetarkan jiwa Ifa.
“Maaf ya Fa, lama. Ka salut sama Ifa. Ifa
hebat banget, udah berani jujur. Hmm..setelah kaka konsultasi pada salah satu
sahabat kaka, dia bilang: ‘Jangan, mungkin itu adalah godaan buat kamu’. Begitu
Fa, katanya. Jadi kaka nggak bisa kalau ada status pacaran. Tapi kaka
menawarkan, sekarang kita pdkt aja. Saling mengenal karakter, kekurangan, dan
kelebihan masng-masing. Bukankah itu inti dari pacaran?. Kalau kita cocok, kita
lanjut ke tahap berikutnya. Bukan pacaran, tapi khitbah (lamaran). Gimana, Fa?.”
Ifa
memang tak berharap menjalin hubungan yang disebut pacaran. Karena ia memang
tak ingin jatuh ke dalam lubang yang sama. Sebuah jurang penuh hiasan
menyakitkan karena cinta. Yang ifa takutkan, Reihan akan menjauh dan benci padanya
setelah mengetahui isi hati Ifa yang sebenarnya.
“Iya, Ifa. Ifa emang nggak bilang mau
jadi pacar kaka. Ifa Cuma ngungkapin perasaan ifa aja. Kaka nggak akan benci
sama ifa, ataupun ngejauh dari ifa. Ifa orangnya baik, kaka juga suka sama ifa.
Sekarang kita saling mengenal aja ya. Kita bisa lebih deket dari kemarin-kemarin
untuk mencapai tujuan suci.”
Airmata
Ifa terurai jelas menyapu paras teduhnya. Ia menahan malu karena berani
mengungkap isi hatinya itu. Ia pun bahagia dipertemukan dengan insan sholeh
seperti Reihan. Tak ada keraguan sedikitpun pada diri Ifa tuk berjuang bersama
Reihan menggapai tujuan suci. Sejak kejujuran itu, keduanya semakin dekat.
Mereka mulai mengenal karakter
masing-masing lebih dalam lagi. Mulai terbuka dengan masalah yang dihadapi. Sungguh
tak pernah terpikir sebelumnya dalam benak Ifa bahwa ia bisa sedekat ini dengan
Reihan. Ifa bahagia.
* * *
Ifa
merasakan perubahan sikap Reihan. Ia berbeda. Belakangan ini ia terlihat ingin
menjauh dari Ifa. Karena itu, Ifa pun ingin kejelasan dari Reihan.
“Kaka nggak ngerasa beda sama dede.
Itu cuma perasaan de aja. Tapi, kaka memang ingin fokus dengan cita-cita kaka.
Ngerti ya de, kurang dari 2 tahun lagi kaka akan melepas tugas sebagai
mahasiswa. Kaka juga takut kalau kita terlalu dekat, kita tak bisa menjaga
kesucian hubungan kita. Jadi kaka minta sekarang, kita fokus kuliah dulu.
Tunggu kaka 2 tahun lagi ya, de,” jelas reihan.
Ifa
hanya tertegun dan menumpahkan kelu hatinya dengan tetesan airmata. Setelah
kejadian itu, sikap Reihan semakin berubah. Reihan bahkan seringkali tak
menganggap keberadaan Ifa, betapapun setiap hari mereka berpapasan di kampus.
Dan hari itu saat Ifa kembali bertanya tentang sikap Reihan, hanya seloroh kata
“Lupakan Aku” yang diucapkan Reihan. Hati Ifa runtuh begitu hening saat
mendengar kata-kata itu. Sungguh Ifa tak mengerti apa maksud Reihan. Ia yang
meminta Ifa menunggu hingga Ifa mengukir harap, dan ia pula yang meminta ifa
melupakannya. Tangisnya membuncah. Tapi Ifa ikhlas. Hanya percikan harap yang
terukir pada sanubari Ifa, “bila suatu hari Allah mempertemukan kita lagi,
semoga kita bertemu dalam ikatan yang diridhoi-Nya, ikatan suci yang berhulu
iman, bermuara takwa, dan kebersihan jiwa.”
* * *
Ifa
tersadar dari lamunannya. Peristiwa itu, kenangan dua tahun lalu. Kini ia
bersanding dengan insan sholeh yang saat ini tersenyum teduh seraya berucap, “Hari
ini, aku menjemputmu bersama janji
suciku”. Itulah ucapan lembut suami Ifa, pria sholeh bernama Reihan Azka.
* * *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar